Perancis: President baru tidak akan mengentaskan permasalahan ekonomi dan sosial yang mendalam

Leïla Messaoudi Gauche Révolutionnaire (CWI di Perancis)

Lawan-balik dengan kebijakan sosialis yang vital

Emmanuel Macron, president Perancis termuda dalam sejarah, merupakan seorang yang tidak pernah dipilih dalam pemilu maupun menganggotai partai pada saat ini. Dia dilihat sebagai ‘orang luar’, mengalahkan baik ‘kiri’ (Partai ‘Sosialis’) dan ‘kanan’ (Republikan), menembus pemilu putaran kedua pada hari Minggu (7 Mei) dan menghadapi Marine Le Pen dari Front Nasional. Tapi dia bukanlah seorang anak ingusan tanpa silsilah pendirian yang jelas-jelas anti-kelas pekerja.

Di saat banyak orang lega setelah kelompok ekstrem-kanan dikalahkan, dan para politikus pro-Uni Eropa melihat ancaman terhadap Uni Eropa dan valuta Euro surut, terpilihnya Macron tidak mengakhiri krisis yang mendalam dan perpecahan dalam masyarakat Perancis. Emmanuel Macron memiliki latar belakang dalam salah satu organisasi perbankan terbesar di dunia dan, bahkan tanpa menjadi anggota dari PS, dibawa masuk oleh Francois Hollande untuk mengejar kebijakan-kebijakan neo-liberal yang kejam yang telah menciptakan masalah-masalah bagi para pekerja dan pemuda Perancis.

Presiden Macron bisa dihadapkan dengan oposisi massal di jalanan seperti dalam pemilu pada bulan Juni. Sebagaimana Gauche Révolutionnaire (CWI di Perancis) jelaskan dalam pernyataan di bawah, tujuh juta pemilih dalam putaran pertama bagi Jean-Luc Mélenchon mencerminkan potensi besar bagi gagasan sosialisme.

Kemarahan besar atas terpilihnya bisnis besar dan perwakilan bankir

Organisir perlawanan di semua lini!

Leïla Messaoudi Gauche Révolutionnaire (CWI di Perancis)

Pemilu presiden di Perancis telah menunjukkan sebuah penolakan historis atas partai-partai ‘tradisional’. Pada putaran pertama, Partai ‘Sosialis’ dari presiden Hollande yang memerintah dilibas habis, begitu juga kandidat sayap-kanan yang korup, Fillon, dari Sarkozy-nya Les Republicains. Dan kekuatan dari kemarahan sosial di masyarakat tergambarkan dengan jelas dengan tujuh juta pemilih bagi Mélenchon dan programnya yang memangkas habis pemotongan anggaran dan buruknya kondisi hidup dan kerja. Namun suara pemilih ini belum cukup untuk menghadang langkah Le Pen dan Front Nasional (FN) dengan wajah barunya di bawah Marine Le Pen; dia mampu mencapai putaran kedua dan berhadapan langsung dengan perwakilan kelas penguasa, Emmanuel Macron.

Akhirnya, Macron terpilih dengan 65.8% suara dan 34.2% bagi Le Pen. Mungkin terbersit bahwa para kapitalis sekarang telah berhasil mengangkat boneka mereka ke atas tampuk kekuasaan dan dia akan mengejar dan melangkah maju kebijakan-kebijakan pemotongan mereka dan penindasan terhadap para pekerja, pemuda, pengangguran dan orang asing. Tapi hal ini sama sekali tidak kita jamin!

Rekor jumlah suara yang ‘golput’

Kertas suara kosong ataupun tidak-valid berjumlah 12% dari semua suara pada putaran kedua – sebuah rekor bersejarah. Hal ini memaksa media mempublikasikan diagram suara golput yang biasanya tidak pernah diumumkan. Kalau kita menambah suara abstain yang jumlahnya sebanyak 34% dari suara pemilih, maka 16 juta dari 47 juta suara terdaftar (dari 52 juta orang dewasa di Perancis) tidak “memilih” antara Le Pen maupun Macron.

Ini merupakan pertanda jelas bahwa Macron memiliki basis yang sangat lemah untuk memerintah sehingga bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang akan sangat goyah. Di balik persentase, realitanya bahkan jauh dari kemegahan. Macron menerima 20. 4 juta suara dan Le Pen 10.6 juta. Faktanya, meskipun ancaman Le Pen terlewati, Macron hanya mengumpulkan 43.6% dari jumlah total pemilih terdaftar. Dan survei-survei pada TPS pada hari Minggu mengonfirmasikannya: 43% dari pemilih Macron melakukannya untuk menghadang kemenangan Le Pen dengan hanya 16%-nya memilih dia karena mendukung programnya.

Macron: kebijakan melawan para pekerja dan pemuda

Macron memiliki misi: mengejar dan menguatkan kebijakan-kebijakan yang dibawa oleh Sarkozy dan Hollande selama 15 tahun terhadap pelayanan publik, memfasilitasi redundansi (ketidakperluan) tenaga kerja dan menjadikan pasar ‘penjualan’ buruh lebih fleksibel. Dia sudah mengumumkan keinginannya untuk menghapuskan 120,000 pekerjaan layanan publik dalam lima tahun. Dan dia akan menggunakan amunisi berupa prosedur anti-demokratis yang diabadikan dalam konstitusi Republik Perancis ke-lima, seperti yang telah Manuel Valls lakukan pada saat menjabat sebagai tangan-kanan Hollande, meloloskan hukum yang vital bagi para kapitalis. Dia ingin memerintah dengan dekrit, yang maksudnya, untuk mengesampingkan parlemen dan diskusi mengenai undang-undang yang diproyeksikan. Yang pertama, untuk Juni atau Juli, sudah dan sedang berjalan – mengenai perubahan yang lebih anti-pekerja pada undang-undang perburuhan negara. Kemudian lagi mengenai tunjangan bagi pengangguran, jaminan sosial dll.

Oposisi yang menentang kebijakan-kebijakan seperti ini – masif dan ditunjukkan selama periode pemilu. Namun kemarahan ini dan oposisi harus menemukan ekspresi sosial dan politis yang memenangkan kepentingan para pekerja, pemuda dan mayoritas dari populasi. Karena adanya risiko di mana FN akan berusaha untuk memanfaatkan lebih banyak oposisi terhadap para atasan dan mengalihkannya ke platform yang salah menggunakan rasisme dan berbagai bentuk diskriminasi.

Goyahnya kelas penguasa sudah pada tahap genting. Sekaranglah saatnya untuk turun ke jalan, untuk menjadikannya jelas bahwa kita menolak kebijakan-kebijakan yang benar-benar anti-sosial ini. Kepimpinan dari federasi serikat buruh tidak boleh tinggal diam, ketika perubahan berlapis-lapis terhadap Hukum Perburuhan diumumkan, ketika oposisi penentang undang-undang El Khomri memaksa jutaan orang turun ke jalan kurang dari setahun lalu. Kita harus mengorganisir dan menunjukkan kekuatan kolektif kita tanpa menunggu hingga ujung Juni.

Le Pen ingin menjadi kubu oposisi melawan Macron. Tidak akan !

Bagi Le Pen dan FN, kampanye pemilu tidaklah sesederhana itu. Mereka berharap menunggangi kekecewaan luas dan menyangka akan mendapat suara terbanyak pada putaran pertama namun kampanye Mélenchon melahap banyak pendukungnya. Dia sukses mendapatkan 10.6 juta suara pada putaran kedua, atau 3.5 juta suara lebih daripada putaran pertama, mungkin di antara kanan paling reaksioner yang sebelumnya memilih Fillon dan si chauvinis Dupont-Aignan (yang memperoleh 1,7 juta suara pada putaran pertama). Pasti ada juga di antara mereka yang jelas-jelas ingin mengalahkan si bankir Macron dengan (secara keliru) memilih Le Pen yang masih tetap menjadi kandidat sejati kapitalis dan merupakan musuh terburuk bagi rakyat biasa.

Saat ini dia ingin mencoba mentransformasikan partainya habis-habisan. Pada hari Minggu Marine Le Pen mengumumkan dengan jelas proyeknya: penciptaan partai baru bagi bulan-bulan mendatang yang menyatukan orang-orang yang menentang kebijakan Macron. Tapi ini telah menghasilkan oposisi di dalam FN sendiri, terutamanya di antara para pendukung Marion Maréchal-Le Pen, yang nampak tidak setuju pada penyesuaian dengan sektor-sektor tertentu pada kanan klasik. Tantangan bagi FN adalah untuk memanfaatkan kemarahan yang telah bangkit tapi juga untuk memungkinkan para pimpinan-nya membangun karier mereka sendiri. Ketegangan akan berlipat ganda, terutama ketika oposisi sesungguhnya bagi Macron, yaitu para pekerja dan pemuda, akan berlandaskan pada tuntutan yang bertentangan dengan landasan Front Nasional (apapun namanya itu nanti).

Pemilu legislatif 2017

Pemilu berikutnya akan diadakan pada tanggal 11 dan 18 Juni 2017, untuk memilih anggota Majelis Nasional. Jelas bahwa pileg ini faktanya akan menjadi putaran ke-3 dan ke-4, di mana kemarahan ini dan kehendak untuk melawan-balik akan diungkapkan.

Lebih dari sebelumnya, akan sangat penting bagi para pekerja, pemuda dan mereka yang tinggal di daerah miskin Perancis untuk memiliki pendirian politis independen yang menentang partai-partai yang menjalankan kapitalisme: gerakannya Macron ‘En Marche!’, pecahnya Partai ‘Sosialis’ dan EELV (Ekologis) (yang telah mencari aliansi dengan partainya Macron), Republikan dan FN.

Berhubungan dengan kampanye Mélenchon, kita perlukan kandidat-kandidat untuk memperjuangkan perombakan terhadap kebijakan-kebijakan pemotongan, dan kita tidak akan menerima kesepakatan dengan partai-partai yang membawanya, seperti PS atau E.E.L.V. Kandidat diperlukan untuk melawan redundansi seperti halnya pada Whirlpool atau Tati, yang melawan pembubaran pelayanan publik, melawan perusakan lingkungan; memperjuangkan kenaikan gaji dan pensiun; pengurangan jam kerja dan penambahan lapangan kerja. Kandidat yang benar-benar berbeda dari para kandidat ‘En Marche’, Republikan, PS atau FN yang korup dan karieris, akan menunjukkan kesanggupannya dengan bersedia menerima gaji rata-rata pekerja terampil.

Kami mendukung untuk memiliki hanya satu kandidat per konstituante di sekitar program ini. Akan memungkinkan untuk mengampanyekan bagi kandidat yang sama, apakah dari ‘La France Insoumise’ (FI)-nya Melenchon atau dari Partai ‘Komunis’ Perancis (PCF), sambil mempertahankan kebebasan bersuara mereka sendiri jika dikehendaki. Sebuah kesepakatan harus tercapai, kalau tidak untuk kampanye bersama, paling tidak untuk mendistribusikan konstituante. Hal ini sangat penting. Tapi jika PCF menuntut, seperti yang tampaknya terjadi, untuk memiliki kandidat utama dalam mayoritas yang besar dari konstituante dan menyisakan FI hanya tempat-tempat di mana skor Mélenchon lebih lemah dalam pemilu presidensial, maka sayangnya tidak ada kesepakatan memungkinkan selain yang telah diajukan oleh FI – memperjuangkan 26 konstituante yang bisa dimenangkan PCF dan 26 lagi bagi FI yang mana tidak akan ada konfrontasi antara kedua gerakan ini.

Saatnya membangun kiri-perjuangan!

Dihadapkan dengan kebijakan-kebijakan yang dikebut atas nama bos-bos, Kiri yang sesungguhnya memiliki tanggung-jawab besar dan tidak bisa menyerahkan nasibnya pada FN. Kita harus menindaklanjuti momentum yang dipicu oleh kampanye di sekitar Mélenchon pada putaran pertama pemilu presiden. Suara bagi Mélenchon membawa harapan bagi rakyat biasa dan program progresif yang menunjuk pada mereka yang sebetulnya bertanggung jawab atas krisis ini: para super-kaya, bank, pemegang saham.

Mélenchon kurang sedikit lagi menyalip Le Pen pada 23 April silam sebagai alarm besar bagi media yang melayani kapitalisme (9 bilyuner sekarang memiliki 90% media di Perancis). Serangan bertubi-tubi dari para wartawan dan kelas penguasa menentang Mélenchon, bahkan kebablasan menyamakan dia dengan Stalin, mengkhianati ketakutan mereka bahwa massa akan merangkul program ekonomi dan sosialnya dan berusaha untuk mempraktekkannya. Dan kemarin setelah pengumuman hasil, ada yang bersukacita karena terhindar dari putaran kedua antara Mélenchon/ Le Pen atau Mélenchon/ Macron yang hasilnya akan beda tipis!

Kita perlu membuat kekuatan politik massa baru yang mampu mengorganisir kemarahan dan perlawanan sekitar program ekonomi dan sosial yang mengidentifikasi siapa yang seharusnya disalahkan: para kapitalis dan perwakilan mereka. Ratusan-ribuan pemilih Mélenchon ingin memperjuangkan programnya. Apa yang kurang dalam kampanye pada dua minggu terakhir adalah pembangunan organisasi FI yang lebih terstruktur, lebih mampu membumi sebagai gerakan militan dan agresif menentang para kandidat yang pro-kapitalis.

Sangat mendesak agar kita bergerak ke sini, karena pemilu legislatif akan menuntut organisasi dan, terutamanya, kampanye pemilihan akan cukup menjadi peluang dalam mencegah Macron dari mendapatkan mayoritas pada Majelis Nasional. Merupakan sebuah cara untuk membangun perjuangan massa melawan kebijakannya, yang akan melibatkan demonstrasi dan hari-hari aksi mogok.

Kami mendukung kekuatan perjuangan politik massa semacam itu, baru, benar-benar demokratis, partai yang membawa bersama para pekerja, pemuda dan mereka yang sudah muak dengan kapitalisme. Untuk hal ini tidak ada banyak solusi, namun hanya satu! Kita perlu berjuang untuk mengakhiri kediktatoran kapitalis dengan pemindahan alat-alat produksi dari para kapitalis dan dengan menempatkan sektor-sektor ekonomi utama ke dalam kepemilikan publik di bawah kontrol dan pengelolaan perwakilan rakyat yang dipilih. Sebuah kekuatan baru dapat dibangun dengan mobilisasi massa dan diskusi program anti-pemotongan, tapi juga dengan membela demokratis-sosialisme melawan kapitalisme dan kediktatorannya demi keuntungan.

Dengan skor Mélenchon dan kampanye ‘France Insoumise’, sebuah langkah besar telah diambil menuju arah ini dan dapat kita katakan bahwa semenjak sekarang, para kapitalis mendapatkan oposisi sesungguhnya untuk dihadapi yang mana ia akan tumbuh dan membangun kekuatannya.

Beginilah Gauche Révolutionnaire akan melanjutkan perjuangan pada periode mendatang! Berjuanglah bersama kami!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: