Stop agenda rasis dan seksis Trump

Protes Anti-Trump memecahkan semua rekor

Pelantikan Trump sebagai presiden Amerika Syarikat adalah sejarah yang tidak pernah terbayangkan oleh Trump sendiri. Proyeknya untuk menyeret politik Amerika ke arah kanan dengan mengancam kesejahteraan hak-hak wanita dan para migran telah memicu demonstrasi terbesar yang pernah terjadi dalam satu generasi. Buruh, pemuda dan kaum kulit berwarna telah memberikan respon hebat sebagai solidaritas menentang rasisme dan misoginis (kebencian terhadap wanita) Trump.

Ketakutan kaum perempuan yang mereka tunjukkan dengan sebuah protes terbesar dalam sejarah Amerika pada 21 Januari (dengan jumlah peserta melebihi 4 juta) sangat beralasan dan itu terbukti ketika Trump telah menolak hak untuk aborsi dan program-program kesehatan perempuan hanya beberapa jam setelah dilantik menjadi presiden. Pada Jumat, 27 Januari, Trump telah menandatangani “larangan perjalanan kepada muslim” dengan menolak kemasukan rakyat dari tujuh negara dengan mayoritas muslim. Undang-undang ini telah dibuat oleh Steve Bannon, ‘ketua strategi’ Trump yang cenderung ekstrem kanan. Bannon mengatakan bahwa dua ancaman terbesar kepada Amerika adalah ‘China dan Islam’. Dia juga meramalkan bahwa dalam “5 sampai 10 tahun” akan datang, Amerika akan berperang dengan China. Kepada musuh-musuhnya yang lain—Iran dan Korea Utara—Trump telah mengeluarkan ucapan-ucapan menghasut dan bersikukuh untuk melakukan ekspansi besar-besaran kekuatan militernya. Ini adalah masa yang rawan.

Larangan memasuki Amerika termasuk di antaranya empat buah negara yang telah diinvasi dan dibom oleh Amerika dalam dua dekade terakhir (Iraq, Libya, Somalia and Sudan) dan dua negara lain di mana “pemerintahan boneka” yang didukung Amerika atau sekutunya saat ini sedang menghadapi perang etnis dan sektarian yang sangat kejam

(Syria and Yemen). Tidak satu pun serangan teroris yang terjadi di Amerika dilakukan oleh warganegara tujuh negara tersebut. Bukan satu kebetulan jika sekutu-sekutu rapat Amerika seperti Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi tidak termasuk di dalam larangan memasuki negara adidaya tersebut.

Peraturan rasis ini mirip dengan Akta Pengecualian orang China 1882 yang diperkenalkan untuk memblokir buruh-buruh China selama sepuluh tahun. Akta ini pada dasarnya telah mendiskriminasikan orang berdasarkan kelas sosialnya, bukan hanya nasionalitasnya.

Larangan Trump ini juga berlaku ke atas pengungsi untuk empat bulan ke depan. Pemerintah di negara-negara Eropa yang sedang membangun tembok dan mengawal perbatasan negaranya dari para pengungsi, dengan hipokrit telah coba mengangkat posisi moralnya dengan menentang kebijakan larangan Trump ini. Sebenarnya, mereka takut penentangan terhadap Trump akan mengundang lebih banyak protes terhadap kebijakan sama di negara mereka masing-masing.

Serangan-serangan dari golongan elit tidak akan melemahkan pemerintahan Trump, tetapi oposisi massa di jalan telah mendesak supaya kebijakan itu diperlunak, misalnya pengecualian larangan terhadap pemegang paspor ganda. Protes-protes tersebut telah meningkatkan tekanan kepada elit-elit politik yang lain seperti dikeluarkannya keputusan mahkamah yang menolak kebijakan Trump tersebut.

Tujuan politik Trump melalui tindakan-tindakan anehnya jelas untuk menyalakan api rasisme dan bermain-main dengan ketakutan masyarakat, dengan harapan wujudnya perpecahan di masyarakat supaya kebijakan-kebijakannya yang memihak orang-orang kaya dan anti buruh dapat dilaksanakan dengan langgeng.

Walaupun ia telah menghujat Wall Street dan “elit-elit Washington” dalam kampanye pemilihan lalu, tetapi agenda sebenar Trump adalah sebaliknya. Ia berencana untuk terus menindas kelas buruh dan golongan 99%, anti hak-hak serikat buruh dan lingkungan untuk melaksanakan pemotongan pajak dan keberpihakan-keberpihakan politik lain terhadap golongan super kaya 1%.

Trump tidak memiliki mandat demokratik untuk kebijakan-kebijakan ini karena ia hanya dipilih oleh 26% penduduk Amerika. Dia mendapat dukungan karena menentang Hillary Clinton yang disimbolkan sebagai kontrol koorporasi terhadap politik Amerika dan “bisnis seperti biasa”. Kekosongan alternatif dari politik sayap kiri dan penolakan Bernie Sanders sebagai calon indipenden melawan Trump adalah faktor utama penentu kemenangan Trump.

Protes yang dihadiri oleh jutaan orang dalam waktu seminggu setelah pelantikan Trump telah mengabaikan imbauan dari politisi-politisi Demokrat untuk “memberi peluang kepada Trump”. Perlawanan massa tersebar ke seluruh Amerika dan seluruh dunia. Di Inggris, 1,8 juta telah menandatangani petisi menentang kunjungan kenegaraan Trump ke negara itu. Ke mana pun ia pergi, termasuk di rumahnya sendiri, Trump selalu dihadapkan dengan aksi protes.

Puluhan ribu telah menghadiri protes di belasan bandara di seluruh Amerika dengan berteriak, “Biarkan mereka masuk” dan “Pengungsi diterima di sini”. Supir-supir taxi di New York telah mengorganisir aksi mogok satu jam menentang larangan perjalanan sebagai bentuk solidaritas.

Tindak tanduk Trump seperti yang dikatakan oleh Karl Marx sebagai “cambuk kontra revolusi” akan melecut revolusi semakin maju. Sebagian kelompok dalam kelas pemerintah sadar bahwa Trump sedang meradikalisasi masyarakat Amerika. CEO American Airlines menyalahkan kebijakan larangan perjalanan oleh Trump sebagai penyebab kekacauan di bandara-bandara di Amerika. Pernyataan ini adalah untuk melawan Trump yang meletakkan kesalahan pada para demonstran. Para kapitalis lainnya seperti manajer Coca Cola mengkritik Trump karena takut ia akan mendestabilisasi politik Amerika dan menyebabkan perlawanan yang bersifat global yang memberi dampak kepada ekonomi.

Seruan untuk aksi mogok nasional menentang Trump semakin berkembang dan anggota-anggota Socialist Alternative (organisasi yang bergabung dengan CWI di Amerika) memainkan peran penting dengan menggariskan langkah apa yang perlu diambil selanjutnya. Tuntutan-tuntutan mereka dapat dilihat dalam demonstrasi di seluruh Amerika: “Bersatu melawan Trump dan kelas milyuner!” Dalam sebuah protes menentang larangan perjalanan di bandara Seattle yang dihadiri oleh lebih 10.000 orang, anggota Dewan Kota dari Socialist Alternative, Kshama Sawant berpidato di depan massa: “Kita telah lihat kekuatan sesungguhnya golongan 99% kemarin malam di banyak bandara di seluruh negara. Kita bisa membangun sebuah gerakan untuk mengalahkan Trump. Mari kita jadikan 1 Mei (Hari Buruh sedunia) sebagai hari protes nasional menentang Trump. Kita perlu menutup jalan-jalan tol, bandara-bandara, pabrik-pabrik dengan aman, tapi tetap melawan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: